A. Pengertian
Manusia
Secara
bahasa manusia berasal dari kata“manu” (Sansekerta), “mens” (Latin),
yang berarti berpikir, berakal budi atau
makhluk ang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain).
Secara
istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan
atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu.
Dalam
hubungannya dengan lingkungan, manusia merupakan suatu oganisme hidup (living
organism). Terbentuknya pribadi seseorang dipengaruhi oleh lingkungan bahkan
secara ekstrim dapat dikatakan, setiap orang berasal dari satu lingkungan, baik
lingkungan vertikal (genetika, tradisi), horizontal (geografik, fisik, sosial),
maupun kesejarahan. Tatkala seoang bayi lahir, ia merasakan perbedaan suhu dan
kehilangan energi, dan oleh kaena itu ia menangis, menuntut agar perbedaan itu
berkurang dan kehilangan itu tergantikan. Dari sana timbul anggapan dasar bahwa
setiap manusia dianugerahi kepekaan (sense) untuk membedakan (sense of
discrimination) dan keinginan untuk hidup. Untuk dapat hidup, ia membutuhkan
sesuatu. Alat untuk memenuhi kebutuhan itu bersumber dari lingkungan.
Oleh karena
itu lingkungan mempunyai pengaruh besar terhadap manusia itu sendiri, hal ini
dapat dilihat pada gambar siklus hubungan manusia dengan lingkungan sebagai
berikut:
a.
Siklus
Hubungan Manusia
b.
Siklus
Hubungan Manusia
B.
Pengertian
Pandangan Hidup
Pandangan hidup adalah bagaimana
manusia memandang kehidupan atau bagaimana manusia memiliki konsepsi tentang
kehidupan. Akibat dari pandangan hidup yang berbeda-beda, maka timbullah
pandangan hidup yang secara umum dapat dikelompokan yang disebut aliran atau paham.
Sebagai contoh, orang yang mengutamakan diri sendiri menimbulkan paham
individualisme dan orang yang mengutamakan kepentingan umum atau masyarakat
menimbulkan faham sosialisme.
Menurut Koentjaraningrat (1980)
Pandangan hidup ialah nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat yang
dipilih secara selektif oleh para individu dan golongan di dalam masyarakat.
Berdasarkan pengertian pandangan
hidup yang telah dipaparkan di atas maka dapat kami tarik kesimpulan pandangan
hidup adalah bagaimana manusia memiliki konsep tentang kehidupan yang memiliki
nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat dan nilai-nilai tersebut tidak
bertentangan dengan agama.
1. Sumber
Pandangan Hidup
Sumber pandangan hidup ada tiga
macam yaitu:
Pandangan hidup yang bersumber
dari agama (pandangan hidup Muslim). Pandangan hidup ini memiliki kebenaran
mutlak.
Pandangan hidup muslim terdiri
dari:
·
Pedoman hidup ialah Al-Quran dan As-sunnah
·
Dasar hidupnya ialah Islam
·
Tujuan hidupnya ialah vertical dan horizontal
·
Tujuan hidup muslim ialah ibadah
Fungsi hidup muslim ialah sebagai
khalifah di atas bumi, yaitu menerjemahkan segala sifat-Nya kedalam
perikehidupan dan penghidupan sehari-hari dalam batas-batas kemanusiaan,
melaksanakan segala yang diridhoi Allah di atas persada buana ciptaan
Allah sebagai risalah atau penerus risalah Nabi, pengemban tugas dakwah kepada
segenap umat manusia.
Alat hidup Muslim ialah harta
benda, jiwa dan raga.
Teladan hidupnya ialah Nabi
Muhammad SAW
Kawan Hidup Muslim dalam arti
khusus yaitu suami/ istri yang taat kepada Allah SWT.
Lawan hidup Muslim yaitu setan,
bangsa jin dan manusia.
Pandangan hidup yang bersumber
dari ideologi merupakan abstraksi dari nilai-nilai budaya suatu negara atau
bangsa. Misalnya ideologi Pancasila dapat merupakan sumber kehidupan hidup.
Pandangan hidup yang bersumber
dari hasil perenungan seseorang sehingga dapat merupakan ajaran atau etika
untuk hidup, misalnya aliran-aliran kepercayaan.
2. Cita-cita
Menurut Kamus Umum Bahasa
Indonesia, yang disebut cita-cita adalah keinginan, harapan, dan tujuan yang
selalu ada dalam pikiran. Keinginan, harapan maupun tujuan tersebut merupakan
orientasi yang ingin diperoleh seseorang pada masa mendatang. Cita-cita
merupakan semacam garis linier yang makin lama makin tinggi, dengan perkataan
lain cita-cita merupakan keinginan, harapan, dan tujuan manusia yang makin
tinggi tingkatannya.
Dapat atau tidaknya seseorang
mencapai apa yang dicita-citakannya, hal itu tergantung pada tiga faktor,
yaitu:
Faktor Manusia
Faktor yang paling menentukan
adalah manusianya sendiri, terutama kualitasnya, karena manusia tanpa
dilengkapi kemampuan tidak akan pernah dapat mencapai cita-citanya, dengan kata
lain, manusia seperti ini hanya berkhayal saja.
Faktor Kondisi
Ada dua kondisi yang dapat
mempengaruhi tercapainya cita-cita, yaitu yang menguntungkan dan yang
menghambat. Faktor yang menguntungkan merupakan kondisi yang memperlancar
tercapainya suatu cita-cita, sedangkan faktor yang menghambat merupakan kondisi
yang merintangi tercapainya suatu cita-cita.
Faktor Tingginya Cita-cita
Tingginya cita-cita merupakan
salah satu hal yang harus dipegang oleh seorang manusia yang ingin mencapai
cita-citanya.
3. Kebajikan
Kebajikan mengandung arti perbuatan
baik, sesuatu yang mendatangkan kebaikan. Dengan demikian, maka kebajikan
merupakan suatu tindakan (action) yang bersumber pada kebijakan, yaitu
kepandaian/kemahiran. Kata kebajikan dan kebijakan erat hubungan dengan
kebijaksanaan, yaitu kepandaian mempergunakan akal budi dalam mencapai suatu
tujuan atau memececahkan suatu persoalan.
Agama Islam mengajarkan berbagai
macam kebajikan. Kebajikan memiliki arti yang luas. Secara khusus, Allah SWT.
Mengungkapkan perinciannya, ’’...sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman
kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan
memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang yang
meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan
menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya bila ia berjanji, dan
orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan peperangan… .” (Q.S.
Al-Baqarah [2]: 177)
Tingkah laku bersumber pada pandangan
hidup, setiap orang memiliki tingkah laku sendiri-sendiri yang berbeda dari
orang lain dan tergantung pada faktor-faktor penentunya, yaitu:
Faktor Pembawaan
Keturunan (hereditas) telah
ditentukan pada waktu seseorang masih dalam kandungan, karena pembawaan
merupakan hal yang diturunkan atau dipusakai dari orang tua. Uniknya dalam
saudara kandung tidak ada yang memiliki pembawaan yang sama. Hal itu
dikarenakan sel-sel benih yang mengandung faktor-faktor penentu di dalam tubuh
Ibu atau Ayah berjumlah sangat banyak dan pada saat konsepsi atau percampuran
sel-sel, benih itu saling berkombinasi dengan cara yang bermacam-macam. Disini
terjadi pembentukan temperamen seseorang. Itulah sebabnya dalam satu keturunan
dihasilkan anak yang bermacam-macam.
Faktor Lingkungan
Lingkungan (environment)
merupakan alam kedua yang membentuk tingkah laku seseorang, setelah seorang
anak lahir. Lingkungan yang membentuk jiwa seseorang terdiri atas lingkungan
keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Dalam lingkungan keluarga, orang
tua ataupun anak-anak yang lebih tua merupakan panutan seseorang, sehingga
apabila yang dianut sebagai teladan berbuat yang baik-baik, si anak yang sedang
membentuk diri pribadinya akan baik juga. Dalam lingkungan sekolah, yang
menjadi panutan pertama adalah guru, sementara itu teman-teman sekolah dapat
juga memberikan andilnya. Lingkungan terakhir adalah masyarakat. Di dalam
lingkungan ini, yang menjadi panutan seseorang adalah tokoh masyarakat dengan
masa setelah anak-anak menjadi dewasa atau duduk di perguruan tinggi.
3.
Faktor Pengalaman
Pengalaman khas yang pernah
diperoleh seseorang dapat menentukan tingkah laku seseorang. Baik pengalaman
pahit yang sifatnya negatif, maupun pengalaman manis yang sifatnya positif
dapat memberikan manusia bekal yang selalu dipergunakan sebagai pertimbangan
sebelum seseorang mengambil tindakan.
Misalnya; ada keinginan dari hati
nurani seseorang untuk menolong orang lain yang dalam kesusahan, tetapi karena
sebelumnya pernah memperoleh pengalaman pahit dalam hal yang sama, niat baiknya
itu tertahan atau diurungkan. Belajar hidup dari pengalaman inilah yang
merupakan pembentukan budaya dalam diri seseorang.
4.
Etika
Istilah etika dalam bahasa
Indonesia berasal dari kata Yunani, ethos yang berarti watak kesusilaan
atau adat. Jadi hampir sama dengan pengertian moral yang berarti cara hidup
atau adat. Misalnya etika itu sesuai atau tidak dengan norma yang berlaku.
Sedangkan moral dipergunakan untuk perbuatan yang sedang dinilai, misalnya
beramal merupakan perbuatan bermoral. Istilah lain untuk etika yang sering
dipergunakan dalam masyarakat adalah susila atau akhlak.
Etika adalah ilmu tentang
kesusilaan yang menentukan bagaimana sebaiknya manusia hidup dalam masyarakat,
apa yang baik dan apa yang buruk segala ucapan harus senantiasa berdasarkan
hasil-hasil pemeriksaan tentang peri keadaan hidup dalam arti kata
seluas-luasnya.
Penentuan segala sesuatu dalam
masyarakat untuk memilih yang baik dan yang buruk, yang betul dan yang salah,
harus sesuai dengan norma yang berlaku. Karena norma merupakan aturan, ukuran,
atau pedoman yang dipergunakan dalam menetukan sesuatu, betul atau salah, baik
atau buruk. Norma dalam suatu masyarakat tentulah berbeda dengan norma dalam
masyarakat lain karena masing-masing disesuaikan dengan adat kebiasaannya.
5. Keyakinan
Dilihat dari segi bahasa,
keyakinan berasal dari kata yaqin yang artinya percaya sungguh-sungguh.
Kepercayaan berbeda dengan keyakinan. Keyakinan dan keimanan berada di atas
istilah kepercayaan. Dan keyakinan ekuivalen dengan keimanan. Kepercayaan
menerima dengan budi (ratio) dan keyakinan menerima dengan akal.
Dalam kehidupan, manusia
mempunyai banyak keyakinan atas suatu hal. Dengan keyakinannya inilah, kemudian
manusia bertindak sebagai makhluk budaya. Keyakinan yang dimiliki manusia bisa
berwujud bermacam-macam. Dalam hal agama, keyakinan itu berarti menyakini
secara pasti dan benar bahwa Allah adalah Sang Maha Pencipta. Dalam bidang
kehidupan manusia menggunakan keyakinan sebagai cara dalam menempuh kehidupan.
Tanpa keyakinan kehidupanakan diliputi oleh bimbang.
C.
Hubungan
antara Pandangan Hidup dengan Ilmu Budaya Dasar
Ketika seseorang ingin berbudaya
maka harus mempunyai pandangan hidup yang tidak menyimpang dari nilai-nilai
atau norma-norma yang ada pada masyarakat serta tidak bertentangan dengan
niali-nilai yang terdapat di Agama. Sehingga budaya yang dihasilkan tidak
menganggu ketenangan, keamanan dan kenyaman masyarakat. Bahkan budaya yang
dihasilkan akan bermanfaat bagi seluruh manusia bila sesuai dengan koridornya.
Contohnya seseorang bercita-cita
menjadi teroris, berarti dibenaknya ada yang salah dalam memandang kehidupan.
Jelas benar ia mempunyai pandangan hidup yang salah. Karena teroris itu sangat
membahayakan keselamatan jiwa manusia yang lainnya bahkan dirinya sendiri akan
jadi korban oleh cita-citanya sendiri. Mana mungkin sesuatu yang membahayakan
dapat bermanfaat bagi orang lain atau diri sendiri.
No comments:
Post a Comment