Tuesday, May 6, 2014

Manusia dan Pandangan Hidup

A.     Pengertian Manusia
Secara bahasa manusia berasal dari kata“manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk ang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain).
Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu.
Dalam hubungannya dengan lingkungan, manusia merupakan suatu oganisme hidup (living organism). Terbentuknya pribadi seseorang dipengaruhi oleh lingkungan bahkan secara ekstrim dapat dikatakan, setiap orang berasal dari satu lingkungan, baik lingkungan vertikal (genetika, tradisi), horizontal (geografik, fisik, sosial), maupun kesejarahan. Tatkala seoang bayi lahir, ia merasakan perbedaan suhu dan kehilangan energi, dan oleh kaena itu ia menangis, menuntut agar perbedaan itu berkurang dan kehilangan itu tergantikan. Dari sana timbul anggapan dasar bahwa setiap manusia dianugerahi kepekaan (sense) untuk membedakan (sense of discrimination) dan keinginan untuk hidup. Untuk dapat hidup, ia membutuhkan sesuatu. Alat untuk memenuhi kebutuhan itu bersumber dari lingkungan.
Oleh karena itu lingkungan mempunyai pengaruh besar terhadap manusia itu sendiri, hal ini dapat dilihat pada gambar siklus hubungan manusia dengan lingkungan sebagai berikut:
a.       Siklus Hubungan Manusia
b.      Siklus Hubungan Manusia


B.      Pengertian Pandangan Hidup
Pandangan hidup adalah bagaimana manusia memandang kehidupan atau bagaimana manusia memiliki konsepsi tentang kehidupan. Akibat dari pandangan hidup yang berbeda-beda, maka timbullah pandangan hidup yang secara umum dapat dikelompokan yang disebut aliran atau paham. Sebagai contoh, orang yang mengutamakan diri sendiri menimbulkan paham individualisme dan orang yang mengutamakan kepentingan umum atau masyarakat menimbulkan faham sosialisme.
Menurut Koentjaraningrat (1980) Pandangan hidup ialah nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat yang dipilih secara selektif oleh para individu dan golongan di dalam masyarakat.
Berdasarkan pengertian pandangan hidup yang telah dipaparkan di atas maka dapat kami tarik kesimpulan pandangan hidup adalah bagaimana manusia memiliki konsep tentang kehidupan yang memiliki nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat dan nilai-nilai tersebut tidak bertentangan dengan agama.


1.       Sumber Pandangan Hidup
Sumber pandangan hidup ada tiga macam yaitu:
Pandangan hidup yang bersumber dari agama (pandangan hidup Muslim). Pandangan hidup ini memiliki kebenaran mutlak.
Pandangan hidup muslim terdiri dari:
·         Pedoman hidup ialah Al-Quran dan As-sunnah
·         Dasar hidupnya ialah Islam
·         Tujuan hidupnya ialah vertical dan horizontal
·         Tujuan hidup muslim ialah ibadah
Fungsi hidup muslim ialah sebagai khalifah di atas bumi, yaitu menerjemahkan segala sifat-Nya kedalam perikehidupan dan penghidupan sehari-hari dalam batas-batas kemanusiaan, melaksanakan segala yang diridhoi Allah  di atas persada buana ciptaan Allah sebagai risalah atau penerus risalah Nabi, pengemban tugas dakwah kepada segenap umat manusia.
Alat hidup Muslim ialah harta benda, jiwa dan raga.
Teladan hidupnya ialah Nabi Muhammad SAW
Kawan Hidup Muslim dalam arti khusus yaitu suami/ istri yang taat kepada Allah SWT.
Lawan hidup Muslim yaitu setan, bangsa jin dan manusia.
Pandangan hidup yang bersumber dari ideologi merupakan abstraksi dari nilai-nilai budaya suatu negara atau bangsa. Misalnya ideologi Pancasila dapat merupakan sumber kehidupan hidup.
Pandangan hidup yang bersumber dari hasil perenungan seseorang sehingga dapat merupakan ajaran atau etika untuk hidup, misalnya aliran-aliran kepercayaan.

2.       Cita-cita
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, yang disebut cita-cita adalah keinginan, harapan, dan tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Keinginan, harapan maupun tujuan tersebut merupakan orientasi yang ingin diperoleh seseorang pada masa mendatang. Cita-cita merupakan semacam garis linier yang makin lama makin tinggi, dengan perkataan lain cita-cita merupakan keinginan, harapan, dan tujuan manusia yang makin tinggi tingkatannya.
Dapat atau tidaknya seseorang mencapai apa yang dicita-citakannya, hal itu tergantung pada tiga faktor, yaitu:
Faktor Manusia
Faktor yang paling menentukan adalah manusianya sendiri, terutama kualitasnya, karena manusia tanpa dilengkapi kemampuan tidak akan pernah dapat mencapai cita-citanya, dengan kata lain, manusia seperti ini hanya berkhayal saja.
Faktor Kondisi
Ada dua kondisi yang dapat mempengaruhi tercapainya cita-cita, yaitu yang menguntungkan dan yang menghambat. Faktor yang menguntungkan merupakan kondisi yang memperlancar tercapainya suatu cita-cita, sedangkan faktor yang menghambat merupakan kondisi yang merintangi tercapainya suatu cita-cita.
Faktor Tingginya Cita-cita
Tingginya cita-cita merupakan salah satu hal yang harus dipegang oleh seorang manusia yang ingin mencapai cita-citanya.  
3.       Kebajikan
Kebajikan mengandung arti perbuatan baik, sesuatu yang mendatangkan kebaikan. Dengan demikian, maka kebajikan merupakan suatu tindakan (action) yang bersumber pada kebijakan, yaitu kepandaian/kemahiran. Kata kebajikan dan kebijakan erat hubungan dengan kebijaksanaan, yaitu kepandaian mempergunakan akal budi dalam mencapai suatu tujuan atau memececahkan suatu persoalan.
Agama Islam mengajarkan berbagai macam kebajikan. Kebajikan memiliki arti yang luas. Secara khusus, Allah SWT. Mengungkapkan perinciannya, ’’...sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang  yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya bila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan peperangan… .” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 177)
Tingkah laku bersumber pada pandangan hidup, setiap orang memiliki tingkah laku sendiri-sendiri yang berbeda dari orang lain dan tergantung pada faktor-faktor penentunya, yaitu:
Faktor Pembawaan
Keturunan (hereditas) telah ditentukan pada waktu seseorang masih dalam kandungan, karena pembawaan merupakan hal yang diturunkan atau dipusakai dari orang tua. Uniknya dalam saudara kandung tidak ada yang memiliki pembawaan yang sama. Hal itu dikarenakan sel-sel benih yang mengandung faktor-faktor penentu di dalam tubuh Ibu atau Ayah berjumlah sangat banyak dan pada saat konsepsi atau percampuran sel-sel, benih itu saling berkombinasi dengan cara yang bermacam-macam. Disini terjadi pembentukan temperamen seseorang. Itulah sebabnya dalam satu keturunan dihasilkan anak yang bermacam-macam.
Faktor Lingkungan
Lingkungan (environment) merupakan alam kedua yang membentuk tingkah laku seseorang, setelah seorang anak lahir. Lingkungan yang membentuk jiwa seseorang terdiri atas lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Dalam lingkungan keluarga, orang tua ataupun anak-anak yang lebih tua merupakan panutan seseorang, sehingga apabila yang dianut sebagai teladan berbuat yang baik-baik, si anak yang sedang membentuk diri pribadinya akan baik juga. Dalam lingkungan sekolah, yang menjadi panutan pertama adalah guru, sementara itu teman-teman sekolah dapat juga memberikan andilnya. Lingkungan terakhir adalah masyarakat. Di dalam lingkungan ini, yang menjadi panutan seseorang adalah tokoh masyarakat dengan masa setelah anak-anak menjadi dewasa atau duduk di perguruan tinggi.
3.        Faktor Pengalaman
Pengalaman khas yang pernah diperoleh seseorang dapat menentukan tingkah laku seseorang. Baik pengalaman pahit yang sifatnya negatif, maupun pengalaman manis yang sifatnya positif dapat memberikan manusia bekal yang selalu dipergunakan sebagai pertimbangan sebelum seseorang mengambil tindakan.
Misalnya; ada keinginan dari hati nurani seseorang untuk menolong orang lain yang dalam kesusahan, tetapi karena sebelumnya pernah memperoleh pengalaman pahit dalam hal yang sama, niat baiknya itu tertahan atau diurungkan. Belajar hidup dari pengalaman inilah yang merupakan pembentukan budaya dalam diri seseorang.
4.      Etika
Istilah etika dalam bahasa Indonesia berasal dari  kata Yunani, ethos yang berarti watak  kesusilaan atau adat. Jadi hampir sama dengan pengertian moral yang berarti cara hidup atau adat. Misalnya etika itu sesuai atau tidak dengan norma yang berlaku. Sedangkan moral dipergunakan untuk perbuatan yang sedang dinilai, misalnya beramal merupakan perbuatan bermoral. Istilah lain untuk etika yang sering dipergunakan dalam masyarakat adalah susila atau akhlak.
Etika adalah ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana sebaiknya manusia hidup dalam masyarakat, apa yang baik dan apa yang buruk segala ucapan harus senantiasa berdasarkan hasil-hasil  pemeriksaan tentang peri keadaan hidup dalam arti kata seluas-luasnya.
Penentuan segala sesuatu dalam masyarakat untuk memilih yang baik dan yang buruk, yang betul dan yang salah, harus sesuai dengan norma yang berlaku. Karena norma merupakan aturan, ukuran, atau pedoman yang dipergunakan dalam menetukan sesuatu, betul atau salah, baik atau buruk. Norma dalam suatu masyarakat tentulah berbeda dengan norma dalam masyarakat lain karena masing-masing disesuaikan dengan adat kebiasaannya.
5.       Keyakinan
Dilihat dari segi bahasa, keyakinan berasal dari kata yaqin yang artinya percaya sungguh-sungguh. Kepercayaan berbeda dengan keyakinan. Keyakinan dan keimanan berada di atas istilah kepercayaan. Dan keyakinan ekuivalen dengan keimanan. Kepercayaan menerima dengan budi (ratio) dan keyakinan menerima dengan akal.
Dalam kehidupan, manusia mempunyai banyak keyakinan atas suatu hal. Dengan keyakinannya inilah, kemudian manusia bertindak sebagai makhluk budaya. Keyakinan yang dimiliki manusia bisa berwujud bermacam-macam. Dalam hal agama, keyakinan itu berarti menyakini secara pasti dan benar bahwa Allah adalah Sang Maha Pencipta. Dalam bidang kehidupan manusia menggunakan keyakinan sebagai cara dalam menempuh kehidupan. Tanpa keyakinan kehidupanakan diliputi oleh bimbang.

C.      Hubungan antara Pandangan Hidup dengan Ilmu Budaya Dasar
Ketika seseorang ingin berbudaya maka harus mempunyai pandangan hidup yang tidak menyimpang dari nilai-nilai atau norma-norma yang ada pada masyarakat serta tidak bertentangan dengan niali-nilai yang terdapat di Agama. Sehingga budaya yang dihasilkan tidak menganggu ketenangan, keamanan dan kenyaman masyarakat. Bahkan budaya yang dihasilkan akan bermanfaat bagi seluruh manusia bila sesuai dengan koridornya.

Contohnya seseorang bercita-cita menjadi teroris, berarti dibenaknya ada yang salah dalam memandang kehidupan. Jelas benar ia mempunyai pandangan hidup yang salah. Karena teroris itu sangat membahayakan keselamatan jiwa manusia yang lainnya bahkan dirinya sendiri akan jadi korban oleh cita-citanya sendiri. Mana mungkin sesuatu yang membahayakan dapat bermanfaat bagi orang lain atau diri sendiri.

No comments:

Post a Comment